Putra Mahkota Arab Saudi Ucap Selamat Menuju Trump Al Baghdadi Tewas

Putra Mahkota Arab Saudi Ucap Selamat Menuju Trump Al Baghdadi Tewas

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberi selamat kepada Presiden Donald Trump atas keberhasilan AS dalam operasi militernya yang menewa

Disney Tutup 4 Taman Hiburannya Lebih Cepat Menyusul Kabar Badai Dorian Hantam Kawasan Tenggara AS
Presiden AS Donald Trump Perkenalkan Anjing Militer yang Bantu Lumpuhkan Pemimpin ISIS di Suria
Tanggapan Lady Gaga Soal Rumor Kedekatannya dengan Bradley Cooper

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberi selamat kepada Presiden Donald Trump atas keberhasilan AS dalam operasi militernya yang menewaskan pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi. Ucapan selamat tersebut disampaikan MBS, julukan putra mahkota Saudi, lewat sambungan teleponnya dengan Presiden Trump, demikian diberitakan kantor berita Arab Saudi, SPA, Selasa (29/10/2019). Menurut MBS, keberhasilan operasi tersebut telah menjadi penanda untuk era baru dan langkah bersejarah dalam peperangan melawan terorisme.

Trump mengumumkan, Minggu (27/10/2019), kematian pemimpin ISIS setelah pasukan khusus yang dipimpin AS melakukan operasi penyerbuan ke tempat persembunyian Baghdadi di sebuah desa di Suriah barat laut pada Sabtu (26/10/2019) malam. Panggilan telepon itu juga menandai komentar publik pertama dari Pangeran Mohammed terkait serangan yang dilancarkan AS terhadap pemimpin ISIS. Trump pun menanggapi ucapan selamat dari MBS dengan memuji kerja sama terus menerus yang telah terjalin antara Riyadh dengan Washington dalam memerangi terorisme dan menguras sumber dayanya.

Sebuah sumber dari Kementerian Luar Negeri Saudi sebelumnya juga telah memuji keberhasilan operasi pasukan AS yang menewaskan Baghdadi dan menyebut pemimpin kelompok teroris itu telah "merusak citra Islam yang sebenarnya". Baghdadi sebelumnya telah menyerukan untuk menyerang Arab Saudi saat kerajaan itu bergabung dengan koalisi yang dipimpin AS dan ikut melawan kelompok terorisnya. Baghdadi dalam pidatonya juga sempat menggunakan istilah yang menghina keluarga kerajaan Saudi.

Sebelumnya diberitakan, kabar tewasnya Baghdadi dalam serangan yang dilancarkan pasukan AS telah mendapat beragam reaksi dari sejumlah negara di dunia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut, kematian Pemimpin Daesh (singkatan Arab untuk ISIS) Baghdadi merupakan titik balik. Dalam kicauannya di Twitter, dia menyatakan Ankara sudah mendukung upaya antiterorisme, dan akan terus melakukannya di masa depan.

"Saya yakin bahwa perjuangan melawan terorisme, ditopang semangat aliansi, akan membawa perdamaian bagi kemanusiaan," kata Erdogan. Sementara Iran, melalui juru bicara Ali Rabiei mengatakan, kematian Abu Bakar al Baghdadi bukan berarti perjuangan menumpas ISIS telah usai. "Kematian Baghdadi bukan berarti melawan ISIS telah usai. Hanya menutup bab terakhir," terang Rabiei dalam kicauan di Twitter.

Dia menjelaskan ISIS masih tumbuh. Baik melalui kebijakan AS, kawasan Timur Tengah yang bergelimang uang, hingga ideologi takfiri. "Tiga sumber ini harus dimusnahkan," tegas Rabiei.

Keraguan disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia, yang menyebut bahwa mereka tidak memiliki informasi kredibel mengenai tindakan pasukan khusus AS di zona deeskalasi Idlib. Juru bicara kementerian Igor Konashenkov meragukan "kematian beberapa kali" yang pernah terjadi terhadap Baghdadi. Dia menuturkan terdapat "detil kontradiksi" sehingga memunculkan pertanyaan dan keraguan tentang kesuksesan operasi militer AS.

"Sejak kekalahan terakhir ISIS oleh pemerintah Rusia dibantu pasokan udara Rusia pada 2018, kematian 'kesekian' Baghdadi tidak mempunyai signifikansi di Suriah maupun aktivitas teroris di Idlib," tutur Konashenkov. Jenazah Pemimpin ISIS Abu Bakar al Baghdadi dilaporkan telah dikubur di laut oleh militer AS pasca operasi Sabtu malam (26/10/2019). Baghdadi tewas dengan mengaktifkan bom bunuh diri yang dibawanya ketika disudutkan Pasukan Delta di persembunyiannya yang berlokasi di desa Barisha.

Seekor anjing militer yang dibawa menjadi pahlawan setelah mengejar Pemimpin ISIS itu, dan memaksanya meledakkan diri, membunuh tiga anak yang bersamanya. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley menjelaskan, mereka membawa sisa jasad Abu Bakar al Baghdadi dan menangkap dua anggota ISIS. "Sisa Baghdadi kemudian dibawa ke fasilitas yang aman untuk dilakukan pemeriksaan DNA guna memastikan identitasnya," katanya dilansir AFP Senin (28/10/2019).

Milley melanjutkan, jenazah sosok yang dihargai 25 juta dollar AS atau Rp 350 miliar itu sudah ditangani sesuai dengan "aturan kontak senjata". Pejabat anonim Pentagon mengungkapkan, jasad Baghdadi telah dikuburkan di laut, di lokasi yang tidak bisa disebutkan secara detail. AS sebelumnya pernah melakukan hal sama ketika Pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, tewas ditembak dalam operasi di Pakistan pada 2011.

"Penanganan jenazah telah dilaksanakan. Lengkap dan ditangani secara tepat," kata Jenderal Milley kepada awak media. Kurdi Suriah, sekutu AS dalam operasi membasmi ISIS, mengklaim intelijen mereka berperan besar dalam menentukan lokasi Baghdadi. Penasihat senior Pasukan Demokratik Suriah (SDF) Polat Can menuturkan, mereka mengambil DNA Baghdadi dari celana dalamnya.

Lebih lanjut, Presiden Donald Trump mengindikasikan Washington bakal merilis video rekaman operasi militer AS di persembunyian Baghdadi. "Kemungkinan kami akan mengambil sejumlah bagian dan memublikasikannya," kata Trump. Keterangan yang sama juga disampaikan Milley.

Saat hadir dalam rapat di Pentagon, Milley mengatakan mereka mempunyai foto dan video Operasi Kayla Mueller, diambil dari nama korban ISIS yang tewas pada 2015. "Namun, saat ini kami belum siap untuk merilisnya. Jadi, rekaman video dan foto itu akan memasuki proses deklasifikasi," ujar Milley.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0