Pihak BWF Didesak Tunda Penggunaan Shuttlecock Sintetis

Pihak BWF Didesak Tunda Penggunaan Shuttlecock Sintetis

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mendapat desakan agar menunda sementara rencana penggunaan shuttlecock sintetis. Penggunaan shuttlecock sintetis send

Ini Hasil Drawing Wakil Indonesia untuk Thailand Open 2019, Tommy Sugiarto Andalan Tunggal Putra
Mas Owi Bimbingnya Juga Enak Tontowi/Apriyani Lolos menuju Babak penting Indonesia Master 2020 Apriyani
Jelang Kejuaraan Bulutangkis Dunia 2019, Tentang Kebangkitan Dramatis Pasangan The Daddies

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) mendapat desakan agar menunda sementara rencana penggunaan shuttlecock sintetis. Penggunaan shuttlecock sintetis sendirirencananya akan digunakan mulai awal tahun 2021. Terobosan penggunaan shuttlecock sintites tersebut sebagai upaya konkret BWF dalam mengurangi penggunaan sampah.

Penggunaan shuttlecock sintetis sejatinya telah menuai beragam komentar baik pro maupun kontra dari beberapa pebulutangkis dunia. Beberapa pebulutangkis mengutarakan penggunaan shuttlecock sintetis tersebut bisa saja menghilangkan seni dan keindahan permainan. Namun, ada beberapa pebulutangkis lain menilai shuttlecock sintetis bisa mempercepat laju permainan yang lebih baik.

Hanya saja mundurnya penyelenggaraan Olimpiade Tokyo secara langsung juga berdampak dengan masa kualifikasi. Tanggal terbaru pelaksanaan ajang Olimpiade Tokyo sendiri dijadwalkan akan dihelat mulai 23 Juli sampai 8 Agustus 2021 mendatang. Namun, opsi penggunaan shuttlecock sintetis diharapkan bisa diterapkan pada awal tahun 2021.

Situasi tersebut mendapatkan tanggapan dari Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM) yang menyarankan agar penggunaan shuttlecock sintetis bisa ditunda terlebih dahulu. Penundaan tersebut diharapkan bisa dilakukan hingga selesainya perhelatan Olimpiade Tokyo pada tahun depan. "BWF seharusnya tidak melaksanakan rencana mereka untuk menggunakan shuttlecock sintetis pada tahun depan," ujar Denny Koh selaku sekretaris BAM, dikutip dari .

"Seharusnya tidak ada perubahan pada pertandingan selama periode kualifikasi Olimpiade," ujar Denny Koh. Denny Koh menilai waktu terbaik penggunaan shuttlecock sintetis tersebut tepatnya setelah penyelenggaraan Olimpiade Tokyo. "Yang terbaik dari penggunaan shuttlecock tersebut yakni setelah Olimpiade Tokyo," beber Denny Koh.

"Tapi anda tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukan BWF karena mereka terkadang tidak melibatkan pemangku kepentingan sebelum menerapkan sesuatu hal baru," pungkas sang sekretaris BAM. Sebelumnya, Denny Koh juga menyarankan agar BWF meniadakan ajang Kejuaraan Dunia Bulutangkis Dunia pada tahun 2021. Salah satu dasarnya menyarankan opsi tersebut mengingat waktu penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Bulutangkis yang hampir bersamaan dengan Olimpiade Tokyo.

Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) diyakini tengah mengalami banyak masalah saat ini akibat penundaan pagelaran Olimpiade Tokyo 2020. Penyelenggaraan event olahraga terbesar dunia bertajuk Olimpiade Tokyo 2020 terpaksa ditunda akibat pandemi corona. Tanggal terbaru pelaksanaan ajang Olimpiade Tokyo dijadwalkan akan dihelat mulai 23 Juli sampai 8 Agustus 2021 mendatang.

Akibat penundaan tersebut mengakibatkan jadwal BWF World Tour 2020 mengalami kekacauan. Penundaan Olimpiade Tokyo juga membuat agenda BWF pada tahun depan diprediksi juga terasa cukup padat. Tercatat akan ada empat agenda besar bulutangkis yang dihelat pada tahun 2021.

Mulai dari Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Piala Sudirman, hingga BWF World Tour Finals. Ditambah penyelenggaraan Olimpiade yang rencana dihelat pada bulan Agustus akan bertabrakan dengan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2021. Hal itu membuat BWF semakin pusing dimana bisa saja perhelatan Kejuaraan Dunia Bulutangkis pada tahun depan ditiadakan demi keberjalanan Olimpiade.

BWF sendiri saat ini tengah dalam situasi sulit untuk segera menyelesaikan revisi terhadap sistem poin kualifikasi menuju Olimpiade. Setelah itu, BWF akan kembali dihadapkan sebuah tantangan bagaimana menemukan tanggal pengganti penyelenggaraan Kejuaraan Dunia 2021. Tak hanya mencari pengganti, BWF juga harus mampu kembali membangun sistem mekanisme kualifikasi bagi siapapun yang ingin berlaga dalam turnamen tersebut.

Mengingat biasanya secara kalender, siklus kualifikasi menuju Kejuaraan Dunia membutuhkan waktu 52 minggu sebelum hari H. Kota yang menjadi tuan rumah ajang Kejuaraan Dunia ke 26 tahun depan adalah Huelva, Spanyol. Menanggapi situasi demikian, Sekretaris Asosiasi Bulutangkis Malaysia (BAM) yakni Datuk Kenny Goh melayangkan pandangannya terhadap masalah tersebut.

Datuk Kenny Goh menganggap bukanlah hal ideal untuk menyelenggarakan Kejuaraan Dunia di tahun yang sama dengan Olimpiade. "Jika BWF masih ingin menyelenggarakan Kejuaraan Dunia itu berarti akan ada tiga turnamen besar tahun depan mulai dari Olimpiade, Kejuaraan Dunia, dan Piala Sudirman," ungkap Denny Goh, dikutip dari . "Jangan lupa bahwa BWF World Tour Finals juga dianggap sebagai turnamen besar oleh BWF sehingga akan menjadi empat, tentu itu terlalu banyak," tambahnya.

Denny Koh menilai ajang Kejuaraan Dunia 2021 bisa saja dihapus saja mengingat waktu penyelenggaraannya hampir bebarengan dengan Olimpiade. "Saya pikir kita harus berani membatalkan Kejuaraan Dunia karena itu diadakan setiap tahun," jelas Denny Koh. "Saya yakin Jepang akan menjadikan Olimpiade sebagai ajang paling berkesan buat mereka mengingat apa yang terjadi pada tahun ini," sambungnya.

Walaupun demikian, usulan Denny Koh bisa saja ditolak BWF sehingga ia menyerahkan semua keputusan terkait hal itu ke pihak yang bersangkutan. "Pada akhirnya itu sepenuhnya kewenangan BWF," akhirnya. Menarik untuk melihat bagaimana tanggapan BWF terhadap masukan tersebut perihal peniadaan Kejuaraan Dunia Bulutangkis tahun depan.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0