Lippo Karawaci Kebut Rencana Bisnis Rasio Utang Rendah John Riady

Lippo Karawaci Kebut Rencana Bisnis Rasio Utang Rendah John Riady

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) optimistis bakal menjadi pengembang dengan raihan pendapatan tertinggi dan dengan rasio utang yang rendah di tahun 2019.

Kemana pun Jack Ma Pergi, Buku Ini Selalu Ikut denganya, Apa Itu?
Peran BRIsat Menjaga Layanan BRI Tetap Lancar
Anggaran Pendidikan Tembus Rp 505,8 Triliun di 2020, Buat Apa Saja?

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) optimistis bakal menjadi pengembang dengan raihan pendapatan tertinggi dan dengan rasio utang yang rendah di tahun 2019. Pencapaian kinerja keuangan LPKR tahun 2019 ini akan melanjutkan catatan positif yang diraih di tahun sebelumnya. “Dengan rasio utang yang terjaga, kami optimistis sejumlah rencana bisnis perusahaan dapat diwujudkan. Ini juga menjadi cerminan dari sisi struktur permodalan sangat kuat. Dukungan konsumen juga menjadi pendorong utama kinerja kami tetap positif,” ujar CEO LPKR John Riady dalam keterangannya, Senin (28/10).

Mengacu data bursa efek, (per Juni 2019), net debt to equity ratio alias rasio utang LPKR lebih rendah dibanding pengembang lain yaitu pada angka 29%. Sebagai perbandingan, rasio utang Summarecon mencapai 76%, Modern Land 77%, Jababeka 56%, dan Citra Land 32%. Rendahnya rasio utang menunjukkan kesehatan perseroan yang sangat baik dan kemampuan untuk berkembang di tahun tahun mendatang.

Jhon menambahkan rasio utang rendah sejatinya juga menjadi sinyal LPKR akan mampu mewujudkan rencana bisnis pada tahun depan. Apalagi likuiditas terjaga. Belum lagi, ada pendapatan berulang dari PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Kinerja LPKR juga akan semakin baik manakala sektor properti di tahun depan kembali bangkit setelah momentum politik selesai.

Perseroan yang aktif dalam membuat kebijakan strategis juga menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan saham LPKR akan terus terangkat. Apalagi LPKR juga menggandeng beberapa mitra strategis dalam melakukan pengembangan properti, hal ini yang dinilai sebagai salah satu kekuatan LPKR. Menurut John, ada tiga hal yang menjadi fokus bisnis Lippo yakni bisnis perumahan, mall, dan rumah sakit.

Ia mengatakan, berbeda dengan jenis bisnis lain yang umumnya hanya memiliki dua hingga tiga pesaing di satu negara, pemain di lini bisnis properti begitu banyak lantaran potensi pasar yang memang sangat besar. Karena itulah, Lippo selalu fokus ke proyek yang sedang dijalankan agar memberi kepastian ketenangan kepada konsumen maupun investor. Ia optimistis ke depan Indonesia sangat prospektif untuk kepemilikan rumah bisa naik dari 60% ke 80%. Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan dana rights issue yang telah diperoleh Lippo Karawaci memungkinkan perseroan bisa cepat menangkap peluang investasi di tahun depan. Posisi rasio utang perseroan masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan kompetitor lainnya.

Menurutnya, kelebihan Lippo Karawaci lainnya adalah mampu menangkap peluang dalam berinvestasi, seperti di real estate investment trust (REIT) atau dana investasi real estate (DIRE). LPKR diproyeksikan akan membukukan pendapatan senilai Rp 13,5 triliun sepanjang tahun 2019, naik 22% dari Rp 11,057 triliun di tahun sebelumnya. Pendapatan LPKR meningkat pesat di saat beberapa pengembang lain bahkan tidak mampu menyamai pendapatan tahun 2018. Misalnya, pengembang Ciputra (CTRA) yang merupakan pengembang terbesar kedua di Indonesia diperkirakan hanya membukukan pendapatan sebesar Rp 7,4 triliun di tahun 2019, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 7,7 triliun. Agung Podomoro (APLN) mengalami hal yang sama dengan capaian Rp 4,5 triliun, turun dari Rp 5 triliun tahun lalu.

Berita Ini Sudah Tayang di KONTAN, dengan judul:

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0