Kena Macet di Tol Padat? Yuk Cicipi Kuliner di Pantura, Mau Plih Sate Maranggi atau Empal Gentong

Kena Macet di Tol Padat? Yuk Cicipi Kuliner di Pantura, Mau Plih Sate Maranggi atau Empal Gentong

Bisnis Kuliner Baru dari Chef Juna dengan Beragam Menu Lezat Go Go Ramen
Kedai Kopi Bertema Harry Potter Ini Tawarkan Minuman Bernuansa Magis
10 Kuliner Favorit yang Tak Boleh Dilewatkan Saat Mudik ke Sragen

Hampir setiap tahun, tempat istirahat di jalan tol kerap menjelma menjadi pemicu kemacetan. Pengemudi berlomba masuk ke area itu untuk memanjakan lidah atau mengisi bahan bakar. Padahal, kapasitasnya terbatas. Pengelola tol dan kepolisian pun kembali menerapkan rekayasa lalu lintas untuk arus mudik dan balik Lebaran 2019.

Selain buka tutup tempat istirahat saat penuh, pengendara juga diminta membatasi penggunaan tempat istirahat. Kebijakan ini untuk mengantisipasi kemacetan di jalan tol. Saat arus mudik, pemerintah memberlakukan sistem satu arah atau one way di Tol Trans Jawa mulai Kilometer 70 Gerbang Tol Cikampek Utama hingga Kilometer 414 Gerbang Tol Kalikangkung Semarang sejak 30 Mei hingga 4 Juni.

Dengan begitu, jalur A, B, dan tempat istirahat dapat dimanfaatkan pengendara arah ke timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat arus balik, sistem satu arah kembali diberlakukan mulai dari Km 414 Semarang hingga km 70 Cikampek pada 7 10 Juni 2019 mulai pukul 12.00 hingga 24.00. Kendati demikian, kebijakan sistem satu arah dapat diperpanjang tergantung dengan kondisi lalu lintas di tol.

Seperti yang terjadi pada Sabtu (8/6/2019) malam. Korps Lalu Lintas atau Korlantas Polri memutuskan untuk memperpanjang rute satu arah di Tol Trans Jawa hingga sepanjang 410 kilometer untuk mengatasi kemacetan panjang di sejumlah titik. Salah satu pemicu kemacetan adalah antrean kendaraan yang hendak memasuki tempat istirahat. Sistem satu arah diberlakukan hingga sepanjang 410 kilometer, yakni dari Kilometer 439 Bawen Semarang hingga Km 29 Cikarang, Bekasi. Padahal, sebelumnya sistem satu arah diterapkan dari Km 414 GT Kalikangkung Semarang hingga Km 70 Cikampek pada 7 10 Juni 2019 mulai pukul 12.00 hingga 24.00.

“Contra flow (sistem lawan arus) tidak cukup untuk mengurai kemacetan sedangkan kendaraan nyaris tidak bergerak. Selain rutenya diperpanjang, waktu pelaksanaan (satu arah) pun bisa diperpanjang,” ujar Kepala Korlantas Polri Inspektur Jenderal Refdi Andri, di tempat istirahat Km 166, Majalengka, Jawa Barat, Sabtu malam. Kendati demikian, sistem satu arah belum menjamin tempat istirahat tidak diserbu pemudik sehingga berpotensi kembali memicu kemacetan. Untuk itu, kepolisian juga menerapkan sistem buka tutup tempat istirahat dan mengalihkan kendaraan ke jalur arteri jika di tol sudah terlalu padat.

Begitu juga yang terjadi ruas tol Cikampek Palimanan, satu arah belum menjamin kawasan rest area bebas kemacetan. “Meski sistem satu arah diterapkan, area istirahat tetap berpotensi menjadi sumber kepadatan karena kendaraan yang ingin masuk tidak sesuai dengan daya tampung,” ujar Manajer Pelayanan Lalu Lintas PT Jasa Marga Cabang Tol Palimanan Kanci Agus Hartoyo. Dia mencontohkan, pada arus mudik tahun lalu, lebih dari 900 kendaraan ingin masuk ke area istirahat Kilometer 207 Tol Palikanci, Kota Cirebon, Jawa Barat. Padahal, daya tampungnya hanya 700 kendaraan.

Langkah antisipasi kepadatan di tempat istirahat juga telah dilakukan PT Lintas Marga Sedaya, pengelola Jalan Tol Cikopo Palimanan, sejak arus mudik 2018. Pengelola menerbitkan buku saku “Kuliner Terbaik Sepanjang Jalan Tol Cipali”. Buku yang dilengkapi gambar berwarna itu mencoba memberikan pilihan bagi pemudik untuk mencicipi kuliner di pantura, dekat tol, sehingga kendaraan tidak menumpuk di tempat istirahat.

Apalagi, dengan panjang 116,75 kilometer, ruas Cipali merupakan yang terpanjang di Indonesia. Di trek yang cenderung lurus itu terdapat empat tempat istirahat di jalur A dan B yang tersebar di Kilometer 86, Kilometer 101 dan 102, Kilometer 130, dan Kilometer 164 dan 166. Setiap area istirahat mampu menampung 80 sampai 800 kendaraan. Jalan tol yang mulai beroperasi pertengahan 2015 ini melintasi Purwakarta, Subang, Majalengka, Indramayu, dan Cirebon.

Buku tersebut memuat tempat makan di kelima kabupaten. Dengan begitu, rumah makan di pantura diharapkan tetap menjaring rezeki meski pengendara memilih jalan tol. Mengutip buku itu, pilihan kuliner khas di Purwakarta salah satunya Sate Maranggi. Terletak di Jalan Cibungur Raya, pengendara dapat keluar tol Cikampek lalu belok ke kanan hingga 3,3 kilometer.

Rumah makan yang memberikan tarif Rp 50.000 – Rp 100.000 per orang itu memiliki menu sate kambing, sop buntut, hingga es kelapa. RM yang dirintis Hajjah Yetty yang dirintis 29 tahun lalu ini bak anomali di jalur pantura. Ketika banyak rumah makan tutup karena sepi pengunjung, Sate Maranggi malah dikunjungi ratusan pengunjung setiap hari.

Presiden Joko Widodo pun pernah mengecap rasa bumbu sate dari kecap, tomat, cabai rawit, dan jeruk limau. “Kuncinya, berusaha dan setia pada rasa,” ucap Yetty (Kompas, 23/3/2019). Pilihan lainnya adalah RM Sambel Hejo Sambel Dadak di Jalan Ciganea, dekat gerbang tol Kilometer 72. RM dengan menu ayam bakar basah hingga nasi liwet ini dibanderol Rp 24.000 – Rp 50.000 per orang. Sekitar 35 menit dari GT Cipali Kilometer 72 juga terdapat RM Teh Haji di Jalan Kolonel Rahmat, Babakan Johar.

RM dengan menu khas masakan Sunda ini menawarkan tarif Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per orang. Suasana persawahan dan kolam ikan turut menjadi daya tarik. Memasuki Subang, pilihan aneka rumah makan tersaji. Hanya 14 menit atau 4 kilometer dari GT Subang Kilometer 109, pengendara dapat mencicipi kuliner di Baso dan Mie Ayam H Virgo di Jalan Oto Iskandardinata. Harga makanannya juga terjangkau dari Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per orang.

Tidak jauh dari sana, di Jalan Sukamelang, terdapat Saung Liwet Kang Nana. Pemudik dapat menikmati nasi liwet, ikan bakar, atau ayam gledek dengan biaya Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per orang. Pilihan tempat mengisi perut lainnya terdapat di RM Mang Yeye di Jalan Raya Kalijati. Jaraknya hanya berkisar sembilan menit dari GT Kalijati Kilometer 98. Aneka menu tersaji dari ayam goreng, sate, hingga karedok. Harganya, Rp 40.000 sampai Rp 50.000 per orang. Sampai ke Majalengka, pamudik masih memiliki aneka pilihan tempat kuliner. Salah satunya, Saung Syuro.

Rumah Makan ini ada di Jalan Pejuang, sekitar 30 kilometer dari GT Kertajati Kilometer 158. Tempat makan lesehan tersebut menawarkan menu ikan bakar, sop iga sapi, hingga duwegan kelapa. Biayanya, Rp 30.000 sampai Rp 50.000 per orang. Jika ingin merasakan bakso, pemudik dapat mengunjungi Baso Bandara di Jalan Pasar Balong, Kadipaten, sekitar 7,7 kilometer dari GT Kertajati.

Pemudik juga akan melintasi Bandara Internasional Jabar Kertajati, bandara terluas kedua setelah Bandara Internasional Soekarno Hatta. Namun, bandara seluas sekitar 1.800 hektar itu masih sepi penumang dan maskapai. Bakso Bandara menawarkan menu bakso iga dan bakso beranak yang berisikan bakso kecil. Rumah makan dengan slogan “Bersih Murah Rasa Wow” mematok tarif Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per orang.

Ketika Tol Cipali beroperasi, Indramayu menjadi daerah yang paling terdampak. Rumah makan, bengkel, dan hotel di pantura Indramayu berangsur tutup. Salah satu faktornya, pintu keluar tol di Indramayu hanya GT Cikedung Kilometer 137. Jaraknya sekitar 100 kilometer dari pantura dan pusat pemerintahan Indramayu. Di sisi lain, di sekitar tol tumbuh usaha baru: rumah makan. Salah satunya, RM Taman Selera di Jalan Raya Subang, hanya dua menit dari GT Cikedung.

RM yang dilengkapi parkir dan mushalah ini dulunya berada di Losarang, jalur pantura. Dengan menu khas masakan Padang, seperti rendang dan ayam balado, pemudik dapat menikmatinya mulai Rp 25.000 per orang. Di dekat Taman Selera terdapat RM Indorasa. Menu ayam gulai, ikan goreng hingga telur balado disajikan secara prasmanan. Harganya pun terjangkau, mulai Rp 30.000 per orang.

Sekitar 10 menit dari GT Cikedung juga terdapat Warung Nasi Baraya di Jalan Cijelag – Cikedung, dekat areal persawahan. Aneka pepes hingga ikan goreng dapat dinikmati dengan biaya Rp 25.000 sampai Rp 40.000 per orang. Dibandingkan Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon mampu meraup untung dengan kehadiran Tol Cipali. Jarak tempuh yang sebelumnya lebih dari lima jam dari Jakarta ke Cirebon kini dipangkas menjadi 3,5 jam melalui Cipali.

Apalagi, terdapat lima pintu keluar tol di Cirebon, yakni GT Palimanan, GT Plumbon, GT Ciperna, GT Kanci, dan GT Ciledug. Kuliner pun meraja. Dari data Badan Pusat Statistik Cirebon, jumlah rumah makan melonjak dari 129 pada 2013 menjadi 147 tahun 2017. Umumnya, rumah makan tersebut menawarkan kuliner khas setempat, seperti empal gentong, nasi jamblang, docang, hingga nasi lengko.

Salah satu pusat kuliner terdapat di jalur pantura Jalan Ir Juanda, Desa Battembat, Kecamatan Tengah Tani. Jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari GT Palimanan. Salah satu yang populer adalah Empal Gentong H Apud. Didirikan sejak 1995 dengan menggunakan gerobak, Empal Gentong H Apud kini memiliki tiga cabang di Batttembat, Pasar Trusmi dan Jalan Tuparev. Presiden Joko Widodo dan presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono telah mencicipi masakan serupa gulai dengan potongan daging sapi bercampur santan dan bumbu kuning itu.

“Dari dulu, Battembat menjadi pusat empal gentong karena di sini terdapat tempat pemotongan hewan. Sekarang, kalau ke Cirebon enggak makan empal gentong artinya belum ke Cirebon,” ujar H Machfud Abbas (63), pendiri Empal Gentong H Apud. Di sekitarnya, berjejer toko kue dan oleh oleh khas Cirebon seperti gapit dan kerupuk melarat. Seluruh produk itu dipasok oleh usaha rumahan warga setempat. Sayangnya, jalur tersebut menjadi salah satu titik rawan macet saat musim mudik. Kuliner lain adalah nasi jamblang Bu Nur dan Mang Dul di Kota Cirebon. Makanan berisi nasi dan aneka lauk itu diyakini telah ada berabad silam lalu.

Uniknya, makanan ini dibalut daun jati. Sejak masa Sunan Gunung Jati, salah satu wali sanga yang pernah memimpin Cirebon, nasi jamblang diberikan kepada para pekerja. Daun jati dianggap dapat membuat makanan tahan lebih lama. Aneka kuliner di jalur pantura itu dapat menjadi pilihan bagi pemudik agar tidak hanya mengandalkan tempat istirahat yang daya tampungnya terbatas. “Apalagi, kalau keluar dan masuk tol lagi, tidak ada tambahan tarif. Perhitungan tarif berdasarkan jarak tempuh per kilometer di tol,” ujar General Manager Operasional PT LMS Suyitno.

Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno mengingatkan, pemudik agar bijak untuk menggunakan tempat istirahat agar tidak memicu kemacetan. Jika pengemudi dalam kondisi lelah, Djoko menyarankan agar keluar gerbang tol menuju ke jalur arteri agar dapat beristirahat dibandingkan harus terhadang antrean kendaraan ke tempat istirahat tol. Untuk itu, jika macet menghadang di jalan tol, lebih baik anda keluar dari jalan tol untuk beristirahat sejenak sembari memanjakan lidah di jalur Pantura. Dengan demikian, anda tidak hanya mengurangi potensi kemacetan di tempat istirahat, tetapi juga mendukung usaha rakyat, seperti rumah makan di pantura.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0